Minggu, 21 Desember 2014

CONTOH INSTUMEN KOGNITIF DALAM PEMBELAJARAN TARI KELAS VII

Ranah Kognitif
Bentuk soal : Essai, Menjodohkan dan Benar Salah

No
Dimensi
Indicator
No. Butir
Jumlah Butir
1.




2.



3.


4.




5.



6
Pengetahuan




Pemahaman



Penerapan


Analisis




Sintesis



Evaluasi

Mengidentifikasi, memilih, menyebutkan, menjelaskan, menghafal, membaca, menulis.


Membedakan, menyimpulkan, merangkum, mengkategorikan, mencontohkan

Mengembangkan, menerapkan, menyesuaikan, menggambarkan, mengkaitkan
Menganalisis, membedakan, menghubungkan, menjabarkan, memilih, menemukan, menyeleksi


Mengkreasi, merencanakan, meingkatkan, memperjelas, memadukan

Membuat evaluasi, membuat kritik, membuat penilaian, membandingkan, menyimpulkan.
3A, 4A, 5A, 1B,5B,6B,1C

7A,8A,6A,2C


1A,3C,4C


2A,2B,7B,8B,5C



6A,3B,4B



2A, 3A,9B,10B,6C


7




4



3


5




3



6
Jumlah Butir Soal
26 butir soal

ANTROPOLOGI DAN FOLKLOR GOES TO BORNEO

  
Antropologi tari dan Folklor adalah salah satu matakuliah di jurusan pendidikan seni tari fakultas bahasa dan seni universitas negri Jakarta. Dalam mata kuliah antropologi tari dosen pengampuhnya yaitu Ibu Nursilah dan mata kuliah Folklor ada dua dosen pengampuh Ibu Nursilah dan Ibu Yvone. Dua matakuliah ini sangat berkaitan satu sama lain.
Dalam mata kuliah ini kami merencanakan untuk penelitian antropologi dan folklore ke suatu daerah yang akan mengadakan festival. Awalnya ada dua kota option yang akan kita pilih, yaitu kota Banyuwangi dan Samarinda sebagai kota tujuan. namun akhirnya setelah melakukan fote banyak yang memilih untuk ke Samarinda Kalimantan Timur. Focus kegiatan kita untuk pergi ke Kalimantan Timur yaitu Penelitian mata kulian antropologi dan folklore yang bertema “Mengenal Proses Pembelajaran Budaya Kalimantan Timur Melalui Festival Kemilau Budaya Etham IX”. Setelah disepakati semua pihak kami merencanakan lama kegiatan itu empat hari mulai tanggal 14 - 17 November 2014.


Jumat, 14 November 2014
Cengkareng , Bandara Soekarno Hatta

Dinihari pukul 02 : 00 saya tiba di terminal 1C Bandara Soekarno Hatta bersama teman-teman yang mengambil mata kuliah antropologi dan folklore, tetapi ada sebagian mahasiswa yang belum hadir atau terlambat, kami menggunkan pewawat CityLink jadwal penerbangan kami pada pukul 4.55 WIB karna kita rombongan jadi harus kumpul lebih awal.
Tiba di Bandara Sepinggan Balik Papan pukul 07 : 11 WIT perjalanan Cengkareng – Balik Papan sekitar 2 jam perjalanan. Setiba kami di bandara Sepinggan kami dijemput Bus Balik Papan – Samarinda perjalanan balik papan – samarinda sekita 2-3 jam perjalanan. Dalam perjalanan balik papan menuju samarinda saya kurang begitu menikmati perjalanannya karna saya merasa lelah dan ngantuk tetapi saya sempat melihat keunikan dalam perjalanan yaitu melihat mesjid yang ber asrsitektur Cina. Dan di sepanjang perjalanan setiap rumah memiliki pohon buah naga yang bentuk pohonya sangat menarik dan indah dijadikan hiasan di halaman rumah warga.
3 jam perjalanan sudah berlalu akhirnya kami sampai di rumah warga tempat kami tinggal untuk 4 hari kedepan. Sesampainya kami sudah memulai kegiatan yang disusun oleh panitia yaitu ramah tamah dengan tuan rumah, setelah ramah tamah kami mengikuti kegiatan selanjutnya yaitu dialog dengan narasumber orang dayak asli seniman tari pedalaman, dalam dialog tersebut lumayan cukup dapat informasi mengenai tari pedalaman dan budaya masyarakat dayak.
Setelah acara selesai kami persiapan menuju festival kemudian mengikuti agenda berikutnya yaitu menuju festival kemilau budaya benua etham yang ditampilkan pada malan ini yaitu tari pesisir saja karna tapi pedalaman sudah di tampilkan pada satu hari sebelum kita berada di samarinda. Kesan pertama dating ke festival tersebut yaitu banyaknya antusias warga untuk menonton, selain ada panggung pertunjukan ada juga pameran yang berupa ethnic Kalimantan timur mulai dari manic-manik, kain tenun, hasil alam, rumah adat kutai dan masih banyak lagi. Saya dan kelompok membagi-bagi tugas agar mendapatkan informasi mengenai tari pesisir, kebetulan saya di tugaskan untuk mendokumentasi pementasan dari awal hingga akhir.
Setelah acara selesai dan kelompok kami sedikit sulit untuk mendapatkan informasi mengenai tari pesisir karna koreografer dan penari enggan untuk di minta informasinya. Acara selesai dan kami pun kembali ke rumah penginapan.
Agenda selanjutnya yaitu laporan sementara kepadan dosen pembimbing yaitu Ibu Nursilah, setiap kelompok wajib melaporkan hasil informasi yang diperoleh mulai dari ramah tamah dengan warga, dengan nara sumber seniman tari pedalaman sampai menonton festival tari pesisir tersebut..
Waktu makin berjalanan laporan pun selesai menjelang tengah malam pada hari jumat 14 November 2014 kami bergegas balik ke tempat menginap. Kami dibagi beberapa kelompok, kami di bagi menjadi 3 rumah, 1 rumah dengan saya ada 4 kelompok. Dengan kondisi yang cukup melelahkan saya pun tidur pulas.


Sabtu, 15 November 2014
Samarinda, Kalimantan Timur
Hari pertama pengumpulan data sudah berlalu, sekarang masuk hari kedua kami tidak ada kegiatan khusus untuk hari ini, kegiatan kami adalah mencari folklor sebanyak banyaknya yang ada dimasyarakat setempat. Setelah sarapan pagi saya dan teman kelompok saya mencari data dan informasi mengenai makanan khas samarinda yaitu Amplang, kami mencari informasi mengenai Amplang tersebut ke rumah Bapak Rt dan Ibu Rt bisa memberikan informasi mengenai proses dan pembuatan kerumuk Amplang. Setelah keliling dengan warga setempat kelompok kami memutuskan untuk mencari informasi ke Kutai Krtanegara. Setelah dapat persetujuan dari ketua pelaksana, dosen pembimping dan bapak rt kami pergi ke kutai kartanegara dengan perjalanan kurang lebih 1 jam perjalanan. Kami sangat menikmati perjalanan yang sangat unik di kanan dan kiri jalan itu ada bukit tetapi pertengahan bukit tersebut sudah membentuk seperti danau ternyata itu adalah pertambangan batu bawa … waaaw sangat mengagumkan pemandangannya sangat indah Indonesia memang indah. Untuk mencapai Kota Tenggarong kami harus menyebrang sungai dengan menggunakan kapal boots , menyebrangi sungai dengan menggunakan kapal boots itu adalah pengalaman perdana bagi kami. Setelah sampainya di Tenggarong kami langsung menuju Musium Mulawarman ( Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara) yang berharap agar mendapatkan informasi menganai folklore dan informasi kesenian atau sanggar tari pesisir, akhirnya setelah sampai kami bertemu dengan pusat informasi dimusium itu dan kita mendapat informasi sanggar tari pesisir yang ada dikutai kartanegara yaitu sanggar seraung namanya. Setelah mendapatkan informasi kami melihat-lihat sekeliling museum dan langsung menuju sanggar seraung tidak jauh dari museum. Setelah sampai disanggar kami bertemu dengan pelatih dan pengelola sanggar tersebut. Banyak informasi yang kita dapat dari informan di snaggar tersebut. Setelah itu kami kembali ke samarinda untuk menuju ke festival lagi, sebelum kami meunju festival kami berkunjung ke citra niaga untuk membeli buah tangan khas Kalimantan Timur, tidak lama kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi Festival, setelah tiba di festival kami berburu informasi kepada narasumber dan informan kami membagi bagi tugas untuk mencari data yang sebanyak banyaknya.
Setelah selesai mencari data dan informasi kami kembali ke tempat penginapan sebelum kembali ke tempat penginapan kami mengapresiasi seni reog ponorogo yang ada di sekitar masyarakat tempat penginapan.
Lalu kegiatan selanjutnya yaitu Laporan sementara hasil pencarian data dan informasi hari pertama dan kedua. Waktu telah menunjukan 00 : 00 namun laporan setiap kelompok belum juga selesai dan banyak teman-teman yang tertidur dan kelelahan. Setelah mendapat banyak koreksian dari Ibu Nursilah kami mendapat tugas untuk merapikan Laporan untuk hari berikutnya. Laporan per kelompok telah selesai kemudian kami kembali ke rumah penginapan masing-masing dan istrahat.

Minggu, 16 November 2014
Samarinda, Kalimantan Timur
Kegiatan hari ketiga yaitu dialog dengan Pemimpin dan Anggota YBSBK (Yayasan Bina Seni Budaya Kaltim) . pada kegiatan ini kita mendapat banyak informsi mengenai tari pesisir, YBSBK merupakan peserta yang memenangkan juara umum pada festival kemilau budaya benua etham ke IX yang diselenggarakan pada tanggal 14 November 2014. Kami banyak mendapatkan informasi tentang tari pesisir dan pedalaman dari koreografer dan penari di YBSBK ini, tetapi mereka lebih menjendrekan ke tari pesisir, kebetulan kelompok kami bertemakan tari pesisir. Setibanya kami di sana kami disambut dengan suka cita di suguhi kue-kue khas Kalimantan Timur gak tau apa nama kue itu yang jelas rasanya cukup asing di lidah saya, orang-orangnya pun ramah dan cepat akrab. Merekapun semangat menunjukan beberapa tarian karya YBSBK, sepetri tari sarung samarinda, tari gantar . waktu makan siangpun tiba panitia menyiapkan makanan untuk makan bareng dengan anggota dan keluarga YBSBK kami makan siang bareng dan sangat terasa keakraban kami sesama penlaku dan pencinta seni. Waktu terus berjalan pukul menunjukan 13.30 WIT kita harus bergegas untuk persiapan karna akan ada agenda berikutnya yaitu dialog terbuka dengan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kalimantan Timur di Grand Victoria Hotel, kami disambut dengan sangat baik oleh panitia pelaksanaan selama dialog terbuka dengan Bapak Kepala Dinas  saya merasa enjoy dan sangat menikmati dialog tersebut karena beliau pencapaiannya sangat dimengerti dan tidak membosankan, cukup banyak informasi yang kami dapatkan mengenai Kalimantan Timur dari dialog terbuka ini. Setelah acara berakhir kami di suguhkan hidangan manis berupa kue dan kopi sambil berbincang-bincang dengan teman-teman. Seletah itu kami kembali ke penginapan dan menyelesaikan laporan sementara Antopologi dan Folklor yang akan dikumpulkan esok pagi hari sebalum kepulangan ke Jakarta.
Setelah makan malam kami berkumpul di rumah besar dan melakukan kegiatan biasa yaitu Laporan sementara hasil data dan informasi yang kita peroleh dari hari pertama sampai hari ke tiga, di sela-sela laporan setiap kelompok ada beberapa yang tertidur karena kelelahan , huh kasian !
Setelah laporan selesai kami kembali ke tempat penginapan masing – masing dan berkemas untuk keesokan harinya pulang ke Jakarta.
Senin, 17 November 2014
Samarinda, Kalimantan Timur
Setelah sarapan pagi kami ramah tamah (pamit) kepada pemilik rumah yang kita tempati, pak Rt dan warga setempat bahwa hal nya kita berterimakasih telah memberikan kesempatan kami untuk melakukan penelitian di kampung tersebut. Sambil menunggu bis kami mempersiapkan bawaan masing-masing dan kemudian menuju bis yang parkirnya lumayan agak jauh . pukul menunjukan 10 : 00 WIT kita harus segera menuju bandara Sepinggan Balik Papan yang waktu tempuhnya kurang lebih sekitar 2 sampai 3 jam. Kami mendapat penerbangan pukul 02 : 30 WIT . sekitar pukul 13 : 00 WIT kami tiba di bandara Sepinggan Balik Papan dan kami langsung Chek in terlebih dahulu. Kurang lebih menunggu 1 jam untuk penerbangan akhirnya kami tiba di Bandara Soekarno Hatta pukul 16. 00 WIB. Setelah ambil bagasi masing-masing dan kami pulang ke rumah masing-masing. Sekian ~


biografi singkat Susanne K. Langer


Sussane Knauth Langer merupakan seorang filsuf wanita kelahiran Amerika Serikat. Ia lahir pada 1895. Susanne Langer merupakan salah satu wanita pertama yang mendalami ilmu filsafat sebagai karir akademisnya. Pemikiran Susanne Langer dipengaruhi oleh pemikiran Ernst Cassirer and Alfred North Whitehead.
Susanne semakin terkenal melalui bukunya pada tahun 1942, Philosophy in a new key. Di buku tersebut Susanne membahas mengenai teori simbolnya dan menyatakan bahwa simbolisme adalah ‘new key’ untuk memahami bagaimana pikiran manusia berubah menjadi kebutuhan untuk mengekspresikan diri.
 Dasar Pemikiran Susanne K. Langer
Susanne Langer tidak melihat seni dari manfaat atau fungsinya melainkan dari apa yang terkandung dan dimiliki oleh seni itu sendiri. Sebelumnya, Susanne melihat bahwa ada sangat banyak teori mengenai seni dan adanya kencenderungan untuk menjadi paradoks. Yakni ketika ada sisi yang menyatakan teori A, kemudian adapula yang menentang di sisi B dan adanya anggapan bahwa ketika A benar maka B salah. Sedangkan parakdoks ialah pertanda adanya kesalahan konsepsi. Bahkan semakin rumit ketika dilihat dari dua sudut berbeda, yakni pencipta dan penikmat. Dari sisi seniman seni dipandang sebagai Ekspresi namun dari segi pengamat dianggap sebagai Impresi.
Seniman: "Apa yg menggerakan seniman utk mencipta?"
Pengamat: "Apa arti karma tersebut bagi kita?"
Pendapat dari sudut pengamat memang lebih byk tetapi sudut pandang dr seniman lebih mendominasi. Sama seperti teori ilmu pengetahuan yg berasal dari laboratorium. Teori seni juga berasal dari studio- studio sang seniman dan bukan dari Galeri seni. Tetapi apabila tujuan seni ialah ekspresi diri, maka hanya seniman sendiri yg bisa menilai karyanya, jika tujuannya utk menimbulkan emosi pengamat, maka seniman hrs berorientasi pada perasaan pengamat sama seperti iklan. Tentu keduanya tidak benar, karena dalam setiap karya mengandung keduanya, walaupun ada karya yang condong ke salah satunya. Teori- teori seni berperilaku seperti ini, selalu ada kutub negative dan positifnya. Dari sini Susanne Langer melihatnya sebagai sebuah paradoks dan itu merupakan suatu gejala adanya kesalahan konsepsi. Mencoba meluruskan konsepsi dan menghindari paradoks, Disini para ahli mengurangi dua aspek subjek diatas, dan menganggap aspek emosional karya seni sebagai sesuatu yg melekat pada karya itu sendiri. Keberadaannya seobjektif bentuk, fisik, warna, dll. Seorang ahli bernama Otto Baensch mengulas perasaan sebagai sesuatu yang objektif, dalam artikelnya yang dikuti oleh Susanne Langer ia berpendapat bahwa ,”Seni ialah kegiatan mental dimana membawa isi dunia kepada pengenalan yg jelas dan objektif, dan seni mebawa isi dunia emosi. Seni bukan utk kesenangan pengamat ttp utk memperkenalkannya pada sesuatu yg belum ia ketahui sebelumnya. Seperti ilmu pengetahuan, seni bertujuan untuk dipahami.” Pada masa modern Estetika seringkali dilihat sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari keindahan. Jika demikian maka pembahasan Estetika akan lebih luas, tidak hanya pada karya seni. Dapat pula keindahan alam.
Misal saat melihat pemandangan alam, suasana (perasaan objektif) bersatu scara objektif bersama pemandangan itu. Kita tidak menganggapnya sebagai makhluk yang punya perasaan. Pemandangan alam tidak mengekspresikan suasana tapi memilikinya. Suasana itu adalah impresi kita terhadap pemanganan alam dan dapat kita pisahkan menjadi elemen lain karena kita telah melalui proses abstraksi. Tidak ada subjek yang mengekspresikannya, objektif ada disana. Setelah memahami adanya perasaan objektif ini, yang tidak berasal dari pengalaman (inderawi)dan tidak diekspresikan oleh seorang subjek namun terkandung dalam karya seni, timbul pertanyaan akan statusnya. Disinilah Susanne Langer mengutarakan teorinya, bahwa hal tersebutlah yang dinamakan Simbol.

 Simbol secara umum
 Memahami symbol dan menciptakannya ialah salah satu keunggulan manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk hidup lainnya. Penggunaan symbol- symbol ini sudah ada sejak zaman sejarah, seiring perkembangan pemikiran sejarah.  Dalam kamus bahasa Indonesia disebutkan bahwa symbol adalah lukisan, perkataan, lencana dan sebagainya yang menyatakan sesuatu hal atau mengandung maksud tertentu. Secara etimologi, symbol berasal dari bahasa Yunani Symbolos yang berarti tanda, atau ciri yang memberitahukan sesuatu kepada seseorang. Namun Sussane Langer melihat Simbol dan tanda sebagai dua hal yang berbeda.
Tiga macam tanda:
1. Tanda alamiah, seperti asap ialah tanda adanya api, hubungannya sederhana, saling
berpasangan dan menunjuk.
2. Tanda buatan, tanda hasil persetujuan bersama (konvensi), seperti bunyi peluit kereta
menandakan kereta akan berangkat.
3. Tanda pengganti, tanda ini sudah mendekati symbol karena digunakan untuk
merepresentasikan sesuatu secara terpisah.

Sedangkan defenisi symbol menurut Susanne ialah setiap sarana dimana kita bisa membuat abstraksi. Abstraksi sendiri ialah pelepasan bentuk dari isinya, yaitu pelepasan bentuk yang sama dari isi yang berbeda sehingga terbentuk konsep. Sederhananya, bila melihat tanda, kita langsung mengacu pada objek yang berkaitan. (Subjek > Objek > Tanda). Sedangkan saat melihat symbol, kita sudah tidak terikat pada objek yang berkaitan melainkan pada suatu konsep tertentu. (Subjek > Objek > Simbol > Konsep).



 Teori Simbol Susanne K. Langer
Pengertian Simbol yang dimaksud Susanne bukanlah symbol- symbol dalam seni seperti Ikonographik. Jadi bukan symbol yang berdasarkan konvensi atau menjadi referensi, tetapi yang memberikan pendalaman dan bahkan mengarahkan konvensi. Dalam defenisi menurut Susanne, Simbol ialah setiap sarana dimana kita bisa membuat abstraksi. Abstraksi sendiri ialah pelepasan bentuk dari isinya, yaitu pelepasan bentuk yang sama dari isi yang berbeda sehingga terbentuk konsep.
Berdasarkan teori yang ada tentang symbol, symbol dibagi menjadi dua:
1. Simbol diskursif, ialah bentuk yang digunakan secara literal dimana unit- unitnya bermakna
berdasarkan konvensi (aturan yg disepakati bersama). Selain itu setiap unit memiliki
maknanya sendiri sendiri seperti kata di dalam serangkaian kalimat.
2. Simbol Presentasional, tidak terdiri dari unit- unit yang memiliki arti tetap untuk digabung
berdasarkan aturan tertentu dan juga tidak dapat diuraikan. Maknanya ada dalam bentuk
totalnya. Contohnya ialah sebuah lukisan yang hanya dapat ditangkap melalui arti secara
keseluruhan.
 Secara khusus Susanne Langer memang membuat teori dasar mengenai symbol untuk teori symbol presentasional, dari sana ia mendefenisikan seni sebagai “kreasi bentuk- bentuk simbolis perasaan manusia”. Defenisi seni ini mengimplikasikan beberapa hal:
1. Seni merupakan kreasi. Kreasi berarti pengadaan sesuatu yang tadinya tidak ada.
2. Rumusan bentuk simbolis. Bentuk simbolis tidak mengacu pada pengalaman sendiri secara
langsung melainkan pengalaman yang sudah disimbolkan.
3. Bentuk simbolis yang dilemparkan seniman dalam kreasi seninya tidak berasal dari pikiran
melainkan dari perasaannya. Yakni formasi dari pengalaman emosionalnya.

 Pemikiran Sussane K. Langer tentang Seni
Teori Sussane Langer tentang simbol mendasari teori Sussane Langer tentang seni. Bagi Susanne Langer, seni merupakan simbolisasi perasaan manusia. Bagaimana karya seni bisa disebut simbol? Susanne Langer menolak teori Plato yang mengatakan seni adalah tiruan (mimesis) dari alam. Baginya, karya seni merupakan suatu bentuk ciptaan yang berbeda dari realitas kehidupan sehari-hari, namun mirip (semblance). Perbedaan yang mengandung kemiripan berasal dari kreativitas seniman.
Kreativitas merupakan imaji seniman dari hal-hal yang tidak imajiner (material). Maka, karya seni berbeda dengan realitas, karena melibatkan imajinasi seniman. Sekalipun pada karya yang tidak mengandung unsur peniruan terdapat imaji murni. Proses simbolisasi dari imajinasi seniman inilah terjadi proses abstraksi (ada proses pemisahan diri dari keberadaannya yang aktual dan memiliki konteks berbeda), sehingga karya seni disebut sebagai
simbol. Semua bentuk dalam seni merupakan bentuk yang diabstraksikan untuk membuatnya lebih tampak secara keseluruhan, dan dilepaskan dari penggunaan sehari-hari, untuk diletakkan sebagai penggunaan baru sebagai simbol yang bersifat ekspresif bagi perasaan manusia.
Dalam karya yang mengandung makna simbolik perasaan yang dieskpresikan dalam seni bukanlah perasaan yang asli, melainkan gagasan terhadap perasaan asli tersebut. Oleh karena itu disebut simbolik.
 Seni adalah virtual dan ilusi
Ciri khas karya seni bagi Susanne Langer adalah adanya virtualitas, dimana karya seni hanya digunakan untuk penglihatan. Susanne Langer menjelaskannya dengan contoh pengunaan cermin : kita dapat melihat diri kita maupun ruang yang kita tempati di cermin, namun tidak dapat menyentuhnya. Hal demikian disebut virtualitas, atau ilusi. Karya seni adalah imaji karena kita tangkap melalui imajinasi. Karya seni adalah obyek virtual karena hadir untuk indera penglihatan. Karya seni adalah ilusi, karena meskipun indera penglihatan menangkap bentuknya, tetapi tidak menyentuh wujudnya. Seni sebagai Living Form Bentuk virtual karya seni merupakan bentuk yang hidup (living form). Disebut bentuk yang hidup karena mengekspresikan kehidupan, pertumbuhan, gerak, dan sebagainya. Seni sebagai bentuk yang hidup dapat ditemukan dalam segala jenis kesenian. Contohnya desain dekoratif yang menunjukkan perasaan hidup menjadi bentuk dan warna yang terlihat. Menurut Susanne, seni juga seperti ilmu pengetahuan. Seni membawa isi dunia emosi, namun tidak hanya memberikan kesenangan bagi pengamatnya. Melainkan menanamkan pemahaman (konsepsi keindahan) bagi pengamat. Seni sebagai simbol presentasional. Seni disebut sebagai simbol presentasional karena mengacu pada pengertian simbol presentasional yakni hanya dapat ditangkap melalui arti keseluruhan, tidak dapat dibagi menjadi unit-unit tertentu. Contohnya sebuah lukisan, mengandung makna jika dilihat secara keseluruhan, tidak dipecah menjadi unit-unit atau elemen kecil. Yang dapat membedakan karya seni dengan karya lainnya yaitu adanya ambivalensi, yaitu bentuk yang sama mempunyai arti yang berbeda.
Proses penciptaan seni melalui Ilusi Primer dan Abstraksi Dasar Menurut Sussane Langer, karya seni (‘ilusi sekunder’) lahir dari yang disebutnya sebagai ‘ilusi primer’. Ilusi primer adalah imaji utama yang terdapat dalam karya seni dan akan menentukan virtualitas dari suatu karya seni. Ilusi primer yang berbeda menghasilkan jenis karya seni yang berbeda :
a. Ruang virtual : Seni lukis, seni pahat, arsitektur
b. Waktu virual : Seni musik
c. Daya virtual : Seni tari dan balet
d. Memori virtual : Seni sastra

Abstraksi dasar adalah segala sesuatu yang diabstraksikan dan menjadi bahan utama dalam suatu karya seni.  Analisa karya seni berdasarkan pemikiran Susanne K. Langer.